sorottajam.my.id, SANGGAU — Bangunan Sekolah Dasar (SD) Mini yang berada di Dusun Pagar Silok RT 05, Desa Balai Ingin, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, kini terbengkalai dan tidak lagi digunakan sejak akhir tahun 2011.
Bangunan yang terdiri dari dua ruang kelas tersebut awalnya dibangun untuk membantu akses pendidikan anak-anak di wilayah setempat yang kesulitan menjangkau sekolah induk karena jarak yang cukup jauh dan kondisi jalan yang buruk saat musim hujan.
Menurut keterangan Riski Edi Suhartono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun, pendirian SD Mini tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak masyarakat terhadap fasilitas pendidikan dasar yang lebih dekat.
“Untuk pendirian sekolah dasar mini yang berjumlah dua lokal, tanahnya disiapkan secara swadaya dan saya ajukan ke kepala desa menggunakan dana desa yang waktu itu berupa subsidi. Alasan saya karena sekolah dasar itu sangat jauh, sekitar 1.500 meter, apalagi kalau hujan jalannya sangat buruk,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekolah tersebut direncanakan menjadi sekolah yang menginduk ke SDN Balai Ingin. Untuk tenaga pengajar, saat itu digunakan lulusan SMA/SMK yang dianggap memiliki kemampuan mengajar.
“Saya berniat SD ini diindukkan ke Desa Beringin, dan pengajarnya menggunakan tamatan SMA/SMK yang punya kompetensi mengajar. Dengan adanya SD induk, biaya guru dan lainnya bisa ditanggung oleh SD induk,” jelasnya.
Pada awal operasional, SD Mini tersebut hanya menerima siswa kelas 1 dengan jumlah murid sekitar 15 hingga 16 orang. Menurut Riski, jumlah anak usia sekolah di Dusun Pagar Silok saat itu memang cukup banyak.
Namun pada tahun 2011, Riski mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala dusun karena honor yang diterima dinilai tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
“Saya mengundurkan diri karena honor kepala dusun waktu itu hanya Rp500 ribu, sehingga tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga,” katanya.
Sebelum mengundurkan diri dan bekerja di PT Intelisis Jaya Gemilang (IJG) yang berada di Tayan Hilir, Riski mengaku sempat menitipkan pesan kepada pengurus yang menggantikannya agar pembangunan SD Mini tersebut tetap dipertahankan dan dikembangkan.
“Harapan saya waktu itu, apa yang sudah saya bangun tolong dipertahankan, terutama SD Mini dua lokal ini bisa bertambah lokalnya, bahkan kalau perlu tidak lagi menginduk ke SD lain. Tapi kenyataannya satu tahun setelah saya mengundurkan diri, SD Mini ini terbengkalai. Penyebabnya saya kurang tahu,” ungkapnya.
Diketahui, bangunan SD Mini tersebut dibangun menggunakan anggaran PNPM sebesar Rp119 juta. Proses belajar mengajar hanya berlangsung sekitar satu tahun sebelum akhirnya berhenti total di akhir tahun 2011 hingga sekarang.
Sementara itu, honor guru pada masa operasional sekolah tersebut disebut berasal dari dana desa dan dana BOS dengan nominal sekitar Rp700 ribuan.
Kini masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat turun langsung meninjau kondisi bangunan sekolah yang sudah lama terbengkalai tersebut agar dapat difungsikan kembali demi menunjang pendidikan anak-anak di wilayah Dusun Pagar Silok.
“Harapan saya untuk saat ini SD ini bisa beroperasi kembali dan bisa berkembang dari SD Mini menjadi SD Inpres, sehingga tidak lagi menginduk ke sekolah lain,” tutup Riski.









